Dialog Hari Raya

“Nanti kita ‘berdiri foto’ selembar, ya.” Pinta istriku saat ia sedang bersiap mengenakan baju barunya.
“Untuk apa?” Tanyaku memastikan.
 
“Ya untuk validasi. Kita perlu ngasih tau ke orang-orang, kalau kita hidup bahagia dan rukun.”
“Bukankah hidup kita sudah bahagia dan rukun?” desakku.
 
“Ia, tapi kan perlu validasi sosial. Apapun yang terjadi dalam rumah tangga kita, orang-orang harus tahu dan mereka harus mengakui itu.” Jawab istriku sambil menempel-nempel bedak di pipinya.
“Berat ya, cara kita melakoni hidup ini.” Simpulanku sementara.
 
“Gak berat. Justru lebih ringan. Kita cuma butuh validasi. Kita gak butuh reviu, apalagi revisi.” Istriku membuka penjelasan.
 
“Coba bayangkan, kalau orang-orang mereviu dan merevisi foto yang kita upload. Orang-orang akan berkomentar begini, misalnya, ‘Bun, bajunya gak cocok dengan warna kulit. Kalau warna sage kayaknya lebih natural. Tolong dikirim ulang ya fotonya. Bajunya pakai yang sage. Paling telat saya lihat sore ini.’” Istriku mulai menjelaskan lebih detail. Lalu, dia bertanya, “Bagaiamana jika yang terjadi begitu?”
 
Aku mulai berpikir, benar juga ya kalau validasi sosial itu sebenarnya sesederhana itu. Kenapa para lelaki melihatnya dengan kacamata yang rumit. Aku mulai kalah argumen dan hmmm, eits tunggu dulu.
 
“Emangnya kita perlu validasi sosial?” Tanyaku sebagai ikhtiar supaya tidak kalah telak.
“Di era yang serba smart hari ini, manusia tidak bisa hidup tanpa validasi. Jawabnya tegas. Istriku sudah hampir siap dengan dandanannya.
 
Dia melanjutkan, “Coba lihat Nita, tetangga kita. Lihat saja di tiktoknya ‘nitachilukba7486’. Dia upload video berlebaran di rumah ibunya di kampung halaman. Dia bagi-bagi THR untuk semua keponakannya dan anak-anak di kampung itu. Di postingan itu, semua orang memujinya, mendoakannya semoga rezekinya lancar. Benar saja, Nita pun semakin semangat bekerja mencari uang. Rezekinya bertambah setiap tahun.” Istriku memberi contoh nyata kehebatan validasi sosial.
 
Aku semakin tak berdaya. Padahal bacaanku tentang topik kehidupan sosial lumayan banyak. Terakhir aku membaca bukunya Vicki Vrint, “All you need is less.” Di buku itu dijelaskan bahwa kebebasan tertinggi kehidupan seseorang adalah ketika dia hanya butuh pengakuan dari dirinya. Manusia yang bahagia tidak butuh validasi. Bahkan di buku itu, dianjurkan untuk menghindari media sosial. Tapi kok aku merasa sudah kalah dengan cerita istriku akan praktik baik dari Nita. Jangan-jangan, buku yang aku baca itu, tidak valid. Aku mulai meragukan karya riset yang panjang, yang ditulis oleh pakar. Aku justru lebih nurut apa kata istriku.
 
Sebelumnya, aku padahal juga sudah khatam buku “Going offline” yang ditulis oleh Dewi Anwar. Buku itu terbilang cukup menarik, mengajak manusia untuk berpikir ulang dalam menjalani hidup supaya lebih seimbang. Kata si penulis, apa yang terjadi di dunia online adalah serangkaian aktivitas yang bernama distraksi—gangguan. Semakin lama seseorang berada di online, itu artinya semakin minus produktivitas.
 
Aku berpikir keras, kenapa si Nita, justru produktivitasnya meningkat. Dia hampir setiap hari posting kesehariannya di Tiktoknya. Dan setiap detik pula dia membalas komentar followernya. Aku masih belum sepenuhnya percaya dengan keberhasilan Nita. Jangan-jangan, apa yang terlihat di media sosialnya, tidak begitu adanya di kehidupan nyatanya. Hatiku masih sepenuhnya setuju, setidaknya pada 2 rujukan buku yang sudah aku sebutkan di atas. Tapi aku kalah argumen karena istriku punya contoh nyata.
 
“Buku itu cuma teori saja” tutup istriku sambil keluar kamar, dan dia sudah siap untuk berdiri foto.
Loh, kok dia tahu apa yang sedang aku pikirkan?
 
*berdiri foto adalah berpose untuk difoto ** Cerita ini hanya fiktif belaka 🙂
Zubir Agani Seorang guru di sekolah swasta

Artikel Terkait

Belum ada Komentar untuk "Dialog Hari Raya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel